jadi kamu sudah merencanakannya, sialan kamu Nto..” ucapku dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku sudah lama merencanakannya.“Bagaimana Bu Meryy..?”“Bagaimana apanya? Tanpa terasa nasi goreng di piring dapat kuhabisi juga.“Bolehkan saya memanggil Bu Meryy dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membasuh mulutku dengan tissue.“Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku.“Enggak apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya.”“Kalau saya boleh manggil Mbak Meryy, berarti Bu Meryy eh.. zzt.. jangan Nto.. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk. Saya sudah bilang cepat keluar!” bentakku lagi dengan mata melotot.“Silahkan ibu teriak sekuatnya, hujan di luar akan melenyapkan suara ibu!” ucapnya dengan matanya menatap tajam padaku.Sepintas kulihat celah jendela yang berada di sampingku dan ternyata memang hujan sedang turun dengan lebat.




















