aku lihat di tengah-tengah wanita-wanita muda itu masih ada kursi yang kosong, akupun melangkah pelan sambil senyum dengan orang yang aku lewati.“Permisi,” kataku kepada orang yang aku lewati.Ahh nampaknya semua orang tidak bersahabat sekali denganku.. Kuarasakan Abang yang berbadan demikian besarnya terjerembab jatuh ke dadaku. Penis itu sudah dalam genggamanku.. Aku tertawa dalam hati membandingkan tubuhku dengan tubuhnya. Kemudian si Abang tadi berbalik dan menutup pintu yang sekaligus berfungsi sebagai lemari kalau dilihat dari dari luar.Wuihh.. Tidak boleh ada tawar menawar harga untuk itu” katanya sambil tersenyum.Aku kembali bergidik yahh ampun.. Ayo kita ke tempat tidur” katanya sambil menarik tanganku dan berjalan ke arah springbed warna pink dekat jendela.Lalu dia menyerahkan sebuah botol.“Ini creamnya” aku menerima botol tersebut dari si Abang.“Anggap saja aku




















