Aku mempersiapkan diri, rebah terlentang di sofa, sebelah kakiku terjuntai ke lantai. Rasanya sehabis “permainan pagi” tadi kami mandi dan Jimmy mengambil pakaian dalam lalu pakaian kebesarannya : oblong dan sarung. Apa boleh buat, kondisi tak mengijinkan. Suamiku, Jimmy namanya, waktu menikah denganku usianya 35 tahun, sudah mapan, punya usaha sendiri. hanya geli. Kami duduk saling merapat, lalu mulailah Jimmy mencumbuiku. Ayah tak pernah menerimanya. Kepada Jimmylah keperawananku kupersembahkan.Kadang Aku menangis sendiri dalam sepi, ingat beberapa tahun lalu Jimmy begitu menggebu-gebu melumatku sampai Aku terasa melayang-layang, mandi keringat dan lalu kelelahan. Untung Jimmy segera tahu bahwa Aku sudah “siap”. Aku menurut saja.




















