Kini pindah ke paha sebelah kanan. Ciut. Membuatku tidak berani. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Aku mengikutinya. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Aku tahu di mana ruangannya. Keberuntungankah? Aku tidak tahan. Badannya berbalik lalu melangkah. Hah..? Kring..! Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Ia menyentuhnya. “Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tetapi berlari. Lalu asyik membuka tabloid. Jendela kubuka. Jangan di sini..!” katanya.Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung.




















