Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Marta mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, “Ah… ah…”
Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku.”Aaahhh,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Marta. Berhasil! kamu salah sangka,” kataku tergagap. “Loh, enggak kerja?” tanyaku. Saya bilangin Vina lho!,” Marta menghardik. Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat. Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku. Namun, keadaan makin runyam.




















