Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Aku hanya peduli dengan lendir yang dapat kuhisap dan kutelan. Bokeb “Jhony, salahkah dugaanku?”
“Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat menyegarkan. Hisap Jhony!”Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Lia dapat terdengar dari luar ruang kerjanya. Menarik nafas berulang kali. Tercium aroma segar yang membuatku menjadi semakin tak berdaya. Mbak Lia menggelinjang dan kembali mengangkat pinggulnya. mbak Lia kurang lebih baru 2 minggu bekerja sebagai atasanku sebagai Accounting Manager. Kuhirup aroma kewanitaannya dalam-dalam, seolah vaginanya adalah nafas kehidupannku.“Fantastis!” kata Mbak Lia sambil mendorong kepalaku dengan lembut. Masuk ke dalam, Jhony,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.Aku terkesima. Wajahku sangat dekat dengan lututnya. Kakinya mulus tanpa cacat. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak sambil tersenyum




















