Sungguh aneh, hingga kami berpisah di depan toilet aku tak tahu nama Pak Tua yg telah menjamah sekujur tubuh dan mengobok obok memekku barusan.Ketika aku kembali bergabung dengan JJ, tak kulihat Indri dan Pras.“Kok lama?” tanya JJ.“Ngantrinya yg lama” jawabku pendek sambil meneguk Coca Cola yg sudah tdk dingin lagi.“Gimana? Kalau saja kubiarkan, tentu bekas merah akan banyak bertebaran di pahaku.Kedua tangan si sopir itu sudah beralih meremas remas kedua toketku dengan kasarnya, diikuti bibir dan lidahnya mendarat pada puncak bukit itu, dengan kuat dia menyedotnya bergantian, aku menggelinjang antara sakit dan geli, kambali dia berusaha meninggalkan bercak merah pada bukitku tapi segera kucegah, mungkin dia begitu gemas melihat kemulusan toketku yg ada dalam genggamannya itu atau ingin menikmati apa yg selama ini




















