“Langsung boleh!” Windu berusaha mengendalikan kegelisahannya. Tidak terasa sudah setengah jam lebih pijatan itu berlangsung dari punggung sampai ke kaki.“Mas kok diam aja sih… Engga enak yah pijatan Titi?” si mungil berbisik menunduk dan berbisik di telinga Windu. Bokeb “Prologue”“Heehhh…!” Windu menghela nafas panjang. “Mau langsung pijit…? Tenang aja deh… Engga usah grogi gitu..!” si mungil tersenyum. Dan kini ia tengah berada di hadapan seorang wanita mungil, menggunakan rok pendek dan baju tanpa lengan, tipis berwarna putih. Obrolan mereka terhenti saat Windu dan si resepsionis melewati mereka dan berbelok menaiki tangga kayu. Tidak dihiraukannya suara panggilan si mungil dari dalam kamar. eh, Wawan..!” jawab Windu. Begitu dirasakannya sudah berada di posisi yang pas, si mungil menekan pinggulnya ke bawah dengan keras.




















