Dari yang di daerah sampai ke Mahkamah Agung (ini kata majalah Tempo loh). Menurut persepsi saya (mudah-mudahan persepsi saya salah) dunia peradilan di negeri kita masih semrawut. Saya biasa memanggilnya Dik Mul, karena memang usianya baru 21 tahun, tiga tahun lebih muda dari saya. Selain itu dia masih mengikuti kuliah di Universitas Terbuka, Fakultas Hukum. Saya mempunyai buku catatan harian tentang hidup saya. Statusku bersuami dengan 2 orang anak. Tetapi kalau selama tiga tahun saya menggeluti profesi saya itu lahir dua orang anak manusia, (masing-masing berumur 2 tahun 3 bulan dan satunya lagi 1 tahun), tentunya saya tidak bisa bahkan tidak mungkin mengetahui siapa bapak masing-masing anak itu. Rasanya seperti mengalahkan anak kecil dalam pergulatan karena Dik Mul ternyata diam saja.




















