Buat apa Rianti dan ibunya ke Jakarta? Selain merampok, aku sudah sangat tidak sabar untuk menyalurkan dendamku dengan menyetubuhi Rianti, cintaku yang sia-sia selama bertahun-tahun harus terbalaskan. Dini hanya terus menangis, badan mungilnya sudah hampir tidak bertenaga. “Ga mungkin, Rianti jarang keluar malam-malam… Gw dah lama tinggal di sini, selain ma elu si Rianti gak pernah keluyuran malam-malam…”. “Rianti, aku mau bicara…” aku menghampirinya sebelum dia melihat kami, karena aku takut dia malah menghindar. “Nanti malam, jalan yuk…” ajakku ketika Rianti singgah di kios tambal ban kami. Maka aku pun bangkit dan maju ke arah kepala Dini, ku sodorkan penisku ke wajahnya.




















