Ah segar. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam. Si Junior melemah. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Tetapi, aku harus berani. Ah masa bodo. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan jelas bolak-balik ke ruang pijat.Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Ah sial. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja.




















