ana
dibalik kertas itu dia meninggalkan nomor telephon rumahnya. tubuhnya biasa, tingginya biasa, hanya saat kami bertemu pandang ada sedikit aliran darah yang yang ‘salah’ masuk urat rasanya…heh…heh….. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke pulau Tarakan. matanya tak lepas memandangku. Sampai di kamar, jam masih menunjuk pukul lima setengah. Sari, pramugari angkatan 24 meleburkan lamunanku, “Teh, Kopi apa susu mas ?” “heh bukan gitu nanyanya” kataku “trus?” “teh ama kopinya bener…” “Susunya?” “heh..heh….”…sahutku gebleg “dasar !”…katanya sambil senyum manis “OK, kopi instant tanpa gula…” akhirnya aku menjawabnya “Captain ?” “sssst, beliau baru ibadah !” kataku Sari mengangguk geli sambil ngeloyor bikin kopi. “heh…heh…jangan sembarangan ya mbak…” kataku dalam hati… buah dadanya masih menantang tepat didepan kedua mataku… “Nov…….” matanya




















