“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Film Porno Aku hanya main dengan tangan. Dari atas: Turun. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Begini saja daripada repot-repot. “Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Hitam. Wajahku mulai panas. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Aku menggelepar.“Sst..! Mobil melaju. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang




















