“Gak suka?” tanyanya pendek. Aku tak peduli. “Tunggu Mas…” aku memanggilnya pelan. Cuaca di luar dingin karena sudah malam, ditambah lagi AC van namun aku dan si sopir memacu birahi justru merasa panas. Dia sendiri seolah membiarkannya, tidak mau tahu pantat istrinya didorong penis pengunjung lapak yang tidak semuanya membeli, sebagian hanya lihat lihat saja.Sehabis dilecehkan begitu, nafsu syahwatku yang naik jadi selalu ingin sentuh dan menaiki penis suamiku. Suaraku meninggi, pasti terdengar suami di luar. Aku membelai tangan kekarnya. Habis dientot begini pasti aku nanti gak bakal bisa berdiri tegak. “Arki gak papa?” sambil suamiku menyalakan mesin mobil van. Aku diam sejenak pasang tarif “Dua ratus aja bang, err sekali ini”Suamiku keluar memberi tahu si supir, “Dua ratus ribu”
Orang itu mengeluarkan dua




















