Buah dada yg menggantung tentunya tidak bisa ku sia-siakan. Malam semakin merangkak naik, gerimis di luar benar benar mengundang kehangatan, begitu juga percakapan kami sepertinya sudah kehabisan topik umum. Kami berciuman, sementara tanganku mulai meraba tali BH di belakang dan melepas kaitannya, terus terang tanganku agak gemetaran sehingga perlu perjuangan untuk melepas kaitan di punggungnya.“Ah Abang nakal,” desahnya di sela-sela ciuman kami, tp dia tidak perduli ketika BH-nya aku tarik kesamping sehingga terlepas dan kulempar ke sofa. “Eh eh,” aku sampai terbengong karena terpesona keindahannya. Dia berjalan di sampingku sementara kupeluk pinggangnya dengan mesra, sungguh serasi dengan tinggiku yg 180 cm, membuat semua orang melirik ke arah kami.




















