Semua orang bebas masuk asal punya uang. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Bokep Crot Lalu ngomong apa? Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Lalu dikocok-kocok sebentar. Jam berapa aku berangkat. Shit! Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Bodoh, bodoh, bodoh. Kadang-kadang ketimun. Ia tersenyum. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Ah. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Tapi masih terhalang kain celana.




















