Apa sih menariknya aku hingga ada 2 gadis cantik yang memperebutkan aku. Kami berdua saling bercerita sambil sesekali rayuan gombal Tia menggelikan telingaku.Mata kami saling beradu, kami mulai merasakan ketidakmyamanan. Detak jantungku mulai kencang.Bergemuruh. Evi cemburu!!! Tentu saja dia cemberut sampai mukanya dilepat-lipat jadi tujuh.Sesekali aku hanya bisa mencuri-curi pandang ke arah Evi yang matanya juga tidak pernah lepas menatap setiap gerak gerikku dan Tia. Oh my God … perasaan apa ini. Memang sih, secara fisik, Tia memang jauh di atas Evi, tapi mengapa perasaanku cenderung memilih Evi? Hhmmm nikmat banget baunya. Tapi sekali lagi, aku memang pengecut. Aku hanya sanggup menganggukkan kepala. Tiba-tiba pintu kamar yang lupa kami Kunci pun terbuka. Rudi menatap curiga ke arah kami yang mungkin masih terlihat tidak




















