“Ray tahu.”
Chie menangis dalam pelukanku, membuatku sejenak mengingat ayahku sendiri yang selalu berkutat dalam pertempurannya dengan idealisme yang kumiliki. “Ray! Bokep barat Dan itulah Jay, kembaranku, sobat terbaikku.Surabaya, awal Agustus 1999“Chie…”
Kurasakan nafas Chie yang memburu saat mulutnya melumat bibirku dan jemarinya membuka kancing-kancing bajuku. Karena seperti kata pepatah kuno, hanya setan yang mengerti setan. Aku tahu ia masih perawan. Merasakan kehangatan air matanya yang membasahi dadaku. Aku tertawa kecil. “Ray…”
“Hmm…”
“Kamu pikir akan ada yang mau menikahiku kelak?”
Ah, Chie. “Bisnis,” Chie mendesah. Aku dapat merasakannya dari setiap pertemuan kami, dan aku menghargainya. Ada apa? Hei!” Jay berteriak gaduh. “Ray…”
Ah! “Hadiah ulang tahun yang indah…” tawaku. terima kasih,” suaranya terdengar sendu, “Kamu?”
“Aku sudah menimbang-nimbang,” jawabku. Aku tertawa kecil. Jay sekarang ada di sebelahku, dengan rokok Dji Sam




















