Setelah kukenakan celana pendek kubuka pintu, ternyata yg ada dihadapanku adalah Indah yg telah kembali balik kekamar setelah keluar entah kemana dan berapa lama. “Melamun apa Zainal”, tanya Indah. Kupindahkan semua barang diatas meja keatas laci, lalu kubersihkan meja itu. Kubaca satu persatu berkas tersebut dan memilah-milahnya menjadi beberapa bagian. Caramu berbicara dengan wanita asal saja tanpa pernah kamu pikirkan akibatnya. “Terus yg mengantar Mbak ke bus di Balikpapan, suami yg ke berapa?”, tanyaku halus. “Kenapa nggak mikir aku saja?”, tanyanya dengan senyum genit. Dengan serta merta ditariknya celana pendek dan celana dalamku sekaligus disertai hembusan nafas beratnya yg makin menggebu. Kulihat waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi lebih sedikit.




















