“Ngga pernah, dan dia juga kayak-nya jijik deh.”, jawab-nya singkat. Aku tidak bisa melihat mimik wajah-nya, karena posisi-ku yang sedang telungkup membuat-ku susah menengok kebelakang. Bibir-ku masih tetap beradu dengan bibir Karen. Aku mengatakan kepada-nya bahwa aku sangat mencintai-nya, dan akan berbuat apapun yang penting aku bisa membuatnya bahagia, meskipun harus berpisah sementara dengan-nya. Malam itu Karen seperti suster pribadi-ku. “Karen, aku juga sayang Karen. Bisa dikatakan bahwa saat itu pula saat terakhir aku melihat diri-nya. “Terserah kak Ditto … keluarin di luar atau di dalam … mana yang paling kak Ditto suka.”, jawab-nya dengan napas terengah-engah. Karen dah pake Diaphragm kok. Tapi Karen janji dulu jangan marah apapun yang terjadi.”, kata-ku dengan nada memohon.




















