Sini Papa entotin ya, sayang..” rayu Papa dengan nafas memburu karena nafsu.Dengan semangat, Papa meremas toket ku dengan sangat keras. Papa mengelus-elus punggungku ketika aku menangis, namun nafas Papaku terdengar berat dan kurasakan penisnya yang membesar menekan perutku. Lelah masih terasa karena orgasme tadi sehingga aku tidak mampu melawan.“Pa.. “Tidak bisa, Nina sayang.. Ukhh.. Papa tahu kamu kaget. Aku merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidah Papa di vaginaku sebelumnya hingga kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihanan keras kenikmatan.“Ahh! Aku meracau tidak beraturan. Nina pengen pipiss..” desahku tak tahan menahan sesuatu yang ingin meledak di dalam diriku, tanganku meremas tangan Papa yang sedang bermain di klitorisku dengan bernafsu.Di luar perkiraanku, Papa malah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Nafasku juga mulai cepat dan berat.




















