Kudorong perlahan-lahan.Nia masih terbaring di atas kasurku. Dia mengajakku melakukannya di kamar kost-an. Entah palsu atau tidak, yang pasti dia mengaku bernama: Ayu. Dan aku tidak pergi ke warung. Kumasukan penisku dengan mudah. Kupendam saja kekuranganku, dan aku berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan diriku lagi.Benar sekali. Sebut saja namanya Wiwi. Namun aku tak berani untuk berkonsultasi kepada dokter. Darma, kamu gagah Begitu katanya, ketika pertama kali berkenalan di sebuah kafe music. Satu persatu, pakaianku mulai dibukanya. Kali aja ketinggalan di sana Kataku sambil melangkah, meninggalkan Teh Ana yang masih berdiri di depan pintu. Dia begitu puas dengan permainanku. Tak lama kemudian, kulihat pintu kamarku juga terbuka. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik kepadaku. Rupanya Erik pun lebih menyukai gaya konvensional. Aku semakin terbawa










