Lepaskan saya.. Sstt.. jawab Iyan sambil memberi tanda menyilangkan jari di bibirnya dan mendekatiku. Kamu benarbenar masih sempit Mery..!! Sementara tangan kirinya meremasi buah dada kananku.Aku benarbenar bagai boneka yg diam saja, padahal bahaya mengancamku. Pikirku.Buka.. Iyan mulai memompa lagi, kini pompaannya semakin cepat.Rasa sakit makin menjadi jadi. Hanya sebentar dia menindih tubuhku, Iyan lalu bangkit. Sementara yg seorang lagi aku tidak tahu.Kemudian dengan mulut yg masih terbekap mereka menyeretku dan memaksaku masuk ke sebuah mobil minibus milik mereka, kulihat bangku bangku mobil itu sudah di rebahkan, hingga rata, membuat orang yg membekap mulutku, leluasa untuk menarikku ke arah dalam. Sempitnya memek kamu Mer..!!




















