Aku tahu apa yang diinginkan Nyonya Wulandari. “Nyonya”. Padahal aku sendiri perlu dikasihani. Bahkan tiga orang pembantu wanita, menempati satu kamar. Tidak lagi menempati kamar yang khusus untuk pembantu.Semua bisa terjadi ketika malam itu aku baru saja mengantar Nyonya pergi berbelanja. Aku diberi sebuah kamar, lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian dan meja serta satu kursi. hanya beberapa detik kemudian aku sudah menggelimpang ke samping, sambil menghembuskan napas panjang. Dadaku jadi berdebar kencang dan menggemuruh. Bahkan dia memberikan daftar makanan khusus untukku.Terus terang, aku merasa tidak enak karena diperlakukan istimewa. Begitu juga yang terjadi denganku. Sekujur tubukku mendadak saja jadi menggeletar seperti terserang demam, ketika dia menghampiri dan langsung melingkarkan kedua tangannya ke leherku.




















