Aku terkesiap menyaksikan zakar anak tiriku itu, yang memang jauh lebih “tinggi tegap” daripada penis ayahnya. Sementara Prima tetap serius menyantap makan malamnya, tanpa memberi komentar apa-apa. “I…iiiya, Bunda…oooh…” mata Prima melotot, pandangannya terpusat ke kemaluanku,
“Bo…boleh saya sentuh yang itu ?” Prima menunjuk ke arah kemaluanku. Menggoyangkannya sedikit sambil berkata perlahan,
“Bunda….Buuun….Bunda….” Aku membalikkan tubuh sambil menggesek-gesek mataku. Menurut perkiraanku, suamiku baru akan pulang sekitar seminggu lagi, bahkan mungkin lebih lama lagi.“Nanda keliatan gembira banget,” kataku waktu kami sudah mulai makian,
“Ada apa nih ? Biarlah mereka menganggapku sebagai pengganti ibu mereka yang telah almarhumah, walau usiaku baru 30 tahun. Pertanyaan itu pun makin membulat.




















