Meskipun tidak menengok ke belakang, aku tahu Rini mondar-mandir kebingungan.“Mau kubantuin gak?” ujar Rini, inilah yang kutunggu-tunggu. Rini pun berusaha memanjat tumpukan kardus, namun tak ada hasilnya, terlalu tinggi buat gadis seperti dia. Bokep Mama Kini tubuhnya lemas lunglai, kakinya lemas dan tangannya sudah tidak memukul-mukuliku. Malam harinya, kami dibagi menjadi grup-grup kecil. “Kamu jangan cari kesempatan yah!” ujarnya sinis. Tak lama kemudian ia pingsan, aku membersihkan vaginanya menggunakan celana dalamnya yang masah serta mengelap keringat dengan behanya, kuusahakan besi-besi behanya tidak menggeseknya. Rini menangis kencang, tanganku yang tadi membelai-belai kepalanya kini menekannya sekencang-kencangnya.……Aku menceritakan masalah wisudaku di hari Sabtu, Rini menyarankan agar aku tidak lama-lama di sana, karena semua alumni sekarang sudah tahu kalau aku ini calon superstar, memang sih aku rugi tidak bisa




















