Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Maya bergantian dari balik kaos.Tak tega rasanya membiarkan Maya kehilangan kenikmatannya. Dia cuman diam sambil menahan malu.“Ya udah, Maya ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Andra aja. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. emmh..” Maya mulai melenguh.Nafasnya mulai tak beraturan. “Lendir kawin Maya keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Aku cuman tersenyum kecut.“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Maya. “Aah… Mas Andra nakal deh…”Sekali lagi Maya mencubit pahaku. “Maya suka sama mas Andra?”Maya memandangku penuh arti. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.“Maya udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.




















