Lalu semakin kupercepat gerakanku. Kubiarkan Aya tersengal-sengal selama 2-5 detik sambil kuperhatikan wajahnya. Setiap centimeternya kulakukan dengan sangat perlahan. “Jangan marah Ben..”
“Tidak..”Kupacu mobilku ke arah utara. Aku sangat marah. Sengaja aku berjalan perlahan. Redial.. Tak lama bibirnya mulai terbuka. sshh.. shh..” jeritnya. Hmm, wajahku masih merah. Setiap centimeternya kulakukan dengan sangat perlahan. Kustater mobilku dan melaju ke luar perumahan menuju jalan raya. Tangannya terkulai di samping tubuhnya. Ia mengangguk pelan, dan duduk di bawahku. Redial.. shh..” setiap kumajukan pinggulku ia mendesis-desis. Aku menjadi sangat bernafsu ketika melihat pinggulnya yang ramping. Lalu mulai bibirku kusapukan ke arah bawah pusarnya. Huh! Aya terkesiap. Tampaknya Aya masih belum berbenah. “Ben masuk aja yuk..




















