“apa lagi yang masih perawan?” “ya semuanya lah” jawabku. “ya udah, kalo gitu Sintia tidur duluan yah”, jawabku dengan tetep senyum manis walaupun bete banget.Malam itu rupanya sofa menjadi tepat tidurnya karena keesokan harinya aku bangun dan dia gak diranjang. “iya, tapi jangan lama-lama”.Aku hanya terbaring di tempat tidur, tubuh bugilku ditutupinya dengan selimut. Siapa dulu yang memulai kami tidak tahu karena secara spontan aku segera jongkok dan siap menjilat serta mengulum kontinya yang sudah tegak berdiri. Aku sampe terpana ngeliatnya” katanya. Uch bang enak sekali..” ceracauku sambil terengah-engah.Aku memejamkan mataku, kunikmati saja ciumannya yang panas. “kita coba tapi pelan-pelan yah…soalnya Sintia kan masih perawan”.




















