Serr. Kok ya ada tukang pijat sehebat ini. Sempat kutatap wajahnya, kulihat sekilas-sekilas dia melirik adikku. Denn. Begitu selesai..“Mau diapain lagi Den?”
“Maksud Ibu?” Tukasku.Tersenyum simpul dia dan.. “Akkh.. Tiba-tiba aku teringat biasanya hotel ada info layanan pijat. Sedikit. Ah beginilah nikmatnya masih bujangan (sebagai lelaki berusia 35 aku jelas termasuk telat menikah, hehe biarin masih enak sendiri kok), waktu masih bisa diatur sesuka hati. Ketika gerak maju-mundur di perut dengan formasi melingkar luar-dalam juga, ternyata setiap mundur gerakannya dibablaskan sehingga si adik tetap bisa menikmati sentuhan-sentuhan. Hal ini menyebabkan aku malas pulang week end ke kota J di mana aku tinggal.




















