Begitu masuk, Ugi yang ternyata sendirian berkata seperti pembawa pesan.“Lik Pipit, Ibu masih lama, sibuk sekali lagi masak buat tamu-tamu. Bokep Jilbab/Hijab Kamu juga sih..”Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat. Tubuhku serasa runtuh rata dengan tanah setelah terbang ke angkasa kenikmatan. “O gitu yah.. Dia sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia pakai kesehariannya..“Dik Wahyu, itu tadi anak saya si Pipit..” kata Bu Murni. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat.




















