Lalu kami berdua istirahat, dan Mang Parto mengelap badan keriputnya dengan handuk yang biasa dibawanya, sementara aku masih terkulai lemas di tikar. Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku bertemu Mang Parto sedang mengepel lantai di depan pintu kamar mandi.“Neng Ayu, kok belum pulang hari gini?”. Setelah menyalakan lampu, Mang Parto langsung meraba-raba tubuhku, meremas-remas dadaku serta menciumi leher jenjangku yang putih dari belakang. Kini vaginaku yang merah merekah dan sudah basah akibat cairanku sendiri terpampang jelas seolah menantang Mang Parto untuk segera melahapnya. Lalu kubuka pakaian seragamku beserta bh dan CD-ku sehingga tubuhku yang habis digarap oleh Mang Parto terpampang jelas di hadapan Mbok Suti tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhku.Mbok Suti berkomentar ketika melihat berkas-berkas merah di payudara dan leherku karena




















