Tunjukkan dengan rakus seolah ini yaitu kesempatan pertama dan yang terakhir bagimu!”Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Tak ada komentar penolakan. Tiba-tiba saja Mbak Tia merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku.“Nanti ada yang melihat bayangan kita dari balik kaca. Lalu ketika ciuman-ciumanku merambat ke paha bab dalam dan semakin usang semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku semakin keras. Aku tak peduli walaupun ada nada perintah di setiap kalimat yang diucapkannya. Kenyal.“Suka, Jhony?” Aku mengangguk.“Tunjukkan bahwa kamu suka. Ia sering pribadi menyebut namaku, sesekali bila sedang bersama rekan kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.Dan tanpa kusadari pula, belakang layar saya merasa betah dan nyaman bila memandang wajahnya yang elok dan lembut menawan. Tak usang kemudian, jari tangannya menengadahkan daguku.




















