Aku pun makan siang dan tdk menunggu merek lagi. Baru saja aku hampir menyelesaikan pekerjaanku, tiba-tiba Wildan menyapaku dan dia sudah berada di depanku. Tiba-tiba saj arasa maluku hilang, karean desakan libidoku yg membuncah-buncah. Langsung dia memelukku dan mengecup bibirku. Mulanya aku risih jg, tp dalam usiaku ke 39 tahun, lama-lama aku menimati desahan nikmat putriku yg entah diapain oleh suaminya Wildan yg memang tampan, gagah, tinggi dan kelihatannya perkasa.Saat suatu pagi Wildan keluar dari kamar madi (hanya kamar tidurku yg meiliki kamar mandi) dia melilitkan handuk di tubuhnya. Aku lemas,” kataku berbisik dan merengangkan pelukan di tanganku. Aku bukan ibu mertua lagi. Berjuang sendiri untuk membesarkan dan menyekolahkan Kedua putriku.




















