“Masukin dong Maaas,” rengek Mirna. Tapi, yah, kebiasaan lama susah luntur. Coba kalo kamu tadi keluar. Apa dia malah gak suka aku jadi seperti ini? Daripada Bram bawa pulang penyakit atau anak haram, mendingan dengan Mirna. Tapi Bram tidak mau buru-buru melepas kesempatan. Bram sudah merasa pegang kendali. Tadi Mirna bersyukur tidak kepergok siapapun termasuk orang di mobil Mercy hitam yang lewat. Mirna menghindar sambil mengipas-ngipas di depan muka. Mas Bram mau apa…?”
“Mau merawanin pantatmu…”
Sesudahnya, ada jeritan yang sampai terdengar oleh Sitha di rumah sebelah. Kakak iparnya itu sudah merokok sejak SMA, dan kadang-kadang Mirna mengira Sitha selalu bermake-up tebal (seperti saat mereka ngobrol sekarang) untuk menutupi penuaan dini di mukanya yang sudah belasan tahun kena asap rokok.




















