mau joged ya?” mukaku makin panas mendengar ejekan demi ejekan yang terlontar dari mulutnya yang diarahkan padaku. kamu mau yang lebih hebat lagi?” tiba-tiba pak Herman mengangkat tubuhku ke atas meja kerjanya lalu dibaringkannya tubuhku. Awalnya suamiku tidak setuju aku bekerja lagi tapi karena aku memberi alasan yang menurutnya masuk akal akhirnya dia menyetujuinya. Erangan panjang terlontar dari mulutku, aku tidak peduli lagi apakah suaraku terdengar sampai luar sana atau tidak, yang jelas aku tak sanggup lagi menahan gelora kenikmatan yang sedang menerpa tubuhku ini. Kontan dengan cepat akupun menepis tangannya yang lancang itu.“tolong jangan kurang ajar ya Pak!!” bentakku sambil menatapnya dengan marah, sekejap aku berdiri dan ketika aku mau membuka pintu ruangan tersebut ternyata pintunya sudah terkunci, sungguh kali ini aku




















