Ahh.., Cepetan dong, aku sudah nggak tahan nih..”, desah Nyonya Wulandari dengan suara rintihannya yang tertahan.Nyonya Wulandari menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih dan mulus. Entah sudah berapa kilometer aku berjalan kaki. Tapi Nyonya Wulandari selalu memberiku obat perangsang, kalau aku sudah mulai tidak mampu lagi melayani keinginannya yang selalu berkobar-kobar itu. Dan keesokan harinya, setelah mengambil semua uangku yang ada di bank, aku langsung ke stasiun kereta. Tapi aku tersenyum dan menggelengkan kepala. “Okh, aah..!”Nyonya Wulandari melipat kedua kakinya di belakang pinggangku. Dan tentu tidak sendiri saja, tapi bersama Nyonya Wulandari. “Iya, Nyonya. Karena rencananya memang mau kabur, aku tidak perlu lagi berpamitan. Perlahan namun pasti aku mulai membuat gerakan-gerakan yang mengakibatkan Nyonya Wulandari mulai tersentak dalam pendakiannya menuju puncak kenikmatan




















