“Kamu mau kemana ini?”
“Tak tahu,” kataku. Kurasa aku terlalu emosionil.”
“Tak apa-apa,” balasku tersenyum. “Ada apa?” tanyaku. Saat itu ia tampak sangat cantik, sebegitu cantiknya hingga jantungku berdegup kencang setiap kali bertatapan dengan matanya. Bersama wanita ini. Aku menepikan mobil dan menginjak rem. Aku melepaskan pagutanku, menarik jariku keluar dan bangkit berdiri. Aku terlena saat bibirnya memagut bibirku. Kuturunkan tubuhku dari sofa, lalu berlutut di samping tubuhnya yang terlentang. Jangan dulu…aahhkk…”
“Shiitt !!” erangku memaki, lalu melepaskan tubuhku dari pelukannya. Lalu kubaringkan tubuhku di atas tubuhnya. Bibirku bergerak sendiri meraih bibirnya. Nafasku tercekat saat ia melepas baju putih tipisnya. Kenikmatan yang luar biasa, saat ia memainkan jemarinya di sana. Asal jangan tiga kali menginjak kakiku.”
“Mungkin lebih.”
“Ayolah.




















