Kurasa aku terlalu emosionil.”
“Tak apa-apa,” balasku tersenyum. Dengan alis berkerut kugelengkan kepalaku. Bahkan pengantinnya. Ia tersenyum memandangku. Aku tak perduli. Aku terkejut saat melihat ada air mata di situ. Aku sudah tidak perjaka. Kali ini lebih lama daripada yang tadi. “Hey !” seruku. “Kamu bisa menikmatinya, selama kau mau,” kudengar ia berkata. “Sekarang…,” ia mendesah lirih beberapa menit kemudian. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, hingga dadanya menempel di lenganku. Kubungkukkan punggungku, meraih puting buah dadanya dengan bibirku. Satu kejapan mata kemudian, kurasakan sebuah kerinduan.,,,,,,,,,,,,,,,, Tidak sekarang, maka takkan lagi. “Kamu…,” ucapku. Itu yang kurasakan saat menatap wajahnya. Secara otomatis, jemariku mulai meraba dan menjelajahi bagian terintim dari tubuhnya. Kali ini ia menarik salah satu tali bra-nya hingga terjatuh sampai ke lengan.




















