Walaupun tahu kebiasaan suaminya yang doyan main perempuan, tetapi Den Ayu Retno tetap setia dan tidak mempermasalahkannya.Hingga pada suatu hari ketika sedang berkeliling pabrik batiknya Juragan Sapto, dengan matanya yang selalu jelalatan itu, kemudian tanpa sengaja melihat seorang pegawai wanitanya yang baru dilihatnya. Walaupun tahu kebiasaan suaminya yang doyan main perempuan, tetapi Den Ayu Retno tetap setia dan tidak mempermasalahkannya.Hingga pada suatu hari ketika sedang berkeliling pabrik batiknya Juragan Sapto, dengan matanya yang selalu jelalatan itu, kemudian tanpa sengaja melihat seorang pegawai wanitanya yang baru dilihatnya. Rustinah tidak berani menolak dan mengiyakan semua perkataan Juragan Sapto. Kemarahan penduduk kampung sudah tidak dapat dibendung lagi, dan dengan berbondong bondong dan dengan membawa berbagai macam senjata mulai dari golok, parang, clurit, arit, bahkan cangkulpun mereka




















