Dengan keakraban kami, aku juga kenal baik dengan istrinya. *TINUNINUNG* pesan baru masuk lagi. “Ren, udalah nyantai aja.” “eeeh iya Rin” “Rin? Kutengok ke kananku, ternyata lemari pakaian kamar tamu ada cerminnya. Aku tidak bisa bayangkan gimana Wein tiap hari, tiap malam disuguhi malaikat sempurna seperti ini.KLOP, jari Rini disentakkan di depan wajahku “Bengongin apaan hayoooo, belom apa2an udah ngayal2″ Anjir, ketauan aku memandangin dia. Rini mendorong tindihanku dan berbalik memindihku. “Oookkkeeeey, trus permintaan apaan yang lo maksud?” “Gini….” dia berhenti sejenak tidak melanjutkan kalimatnya. Tingginya semampai, ideal jika diperhatikan mungkin tingginya sedaguku. Kulitnya tidak terlalu putih, namun bersih, rambutnya dipotong sebahu, badannya juga gak terlalu langsing.




















