Aku tertipu. Bokep Asia Lalu asyik membuka tabloid. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Aku mengurungkan niatku. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Lalu ia memijat lutut. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Aku masih termangu. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Aku mengikutinya. Aku masih termangu. Ia menyentuhnya. Hah..? Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Aku masih mematung. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Aku tidak menjepit tubuhnya. Kali ini dengan telapak tangan. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue




















