Namun terhadap Kak Intan saya bersikap biasa, seolah tidak tahu apa yang telah dilakukan dengan kekasihnya. Tepatnya kelas dua SMA sudah menjalin kasih dengan teman sekolah. Mengingat dan merasakan pengalaman seks selama ini, banyak laki-laki yang mencoba mendekati saya dan mengutarakan cinta. Untuk beberapa saat kami berpelukan, rasanya tidak ingin melepas, malah inginnya mengulang lagi. Bisa jadi karena sudah biasa. Kakak saya bersuara, “Bayar dulu”, katanya. Saya saja yang agak jual mahal. Untuk sekadar makan bersama atau kumpul keluarga saja boleh dikatakan hampir tak pernah.Kondisi itu sepertinya tidak dipedulikan oleh ketiga kakakku, dua pertama perempuan, dan ketiga laki-laki. Dan wanita itu tidur rebahan di sebelah kakakku. Seperti siang itu, Kak Intan kuliah siang.Saya coba membuka pintu kamar Kak Intan, dalam benak saya siapa




















