Aku mencari Lisa, bidadari yang merenggut keperjakaanku.“Lisa… hey…!” Lisa menengok dan matanya melotot.“Ups… Ibu Lisa!” Aku lupa, dia kan guruku.“Sampai ketemu lagi ya, jangan lupa belajar!” sambil menaiki tangga bus dia menyerahkan surat padaku. Anehnya saat itu, dia tidak ingin langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di pertokoan di daerah Alun-Alun Bandung. Aku terjatuh di sampingnya, aku puas! Tangannya yang kecil mungil itu akhirnya menarik batang kemaluanku dan membimbingnya untuk memasuki lubang kewanitaannya.“Bles… sss… sek!” Batangku sudah seratus persen tertanam di lubang surganya. Tak lama kemudian, telapak tangan lisa yang hangat meraih pergelangan tanganku. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini batang kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Lisa mengocok-ngocok batanganku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di depanku dan juga membelai rambutnya




















