Anehnya si mbah yang selalu memberi perhatian lalu mgomong ke simbok. Kamar tidur rumah kami hanya bepenerangan lampu minyak yang sejak tadi sudah di kecilkan. Dia kemudian memintaku untuk menindihnya lagi. Aku mungkin baru tertidur satu jam, tetapi penisku sudah berdiri lagi. Selanjutnya hampir tiap malam aku harus melayani nafsu kedua orang tuaku sampai aku dewasa. Saking polosnya aku, yang terbayang dalam benakku adalah nanti malam aku bakal tidur bersempit-sempitan dan bersenggolan. Dia kutanya dengan penuh keheranan, apakah kesakitan. Aku tidak tahu kemana tujuan mereka mengajakku tidur bareng dan sekarang mbah tidur memelukku dan mengusap-usap dadaku. Dalam mengusap sabun tentu saja aku leluasa menjamah seluruh tubuh mereka.




















