Dia tampak bingung sehingga harus kubantu. Lebih celaka lagi, karena kamar mandi rumahnya menjadi satu dgn kamar mandi rumah Pak Kartolo,maka semakin besar kesempatan lelaki hidung belang itu mencuri pandang pada tubuhnya yg bahenol itu. Kupicratkan air kembang ke buah dadanya, dan dgn lagak sok yakin kupegang kedua bukit indah itu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi (mungkin 158 cm), kulitnya sungguh halus, kuning agak keputih-putihan. Wah, nama lokal betul.Aku berdeham:
“berapa umurmu? tiga senti.. Di sini manteranya kuat sekali. Kugesek-gesek kepala jagoanku ke kelentitnya. susah amat.Akhirnya, setelah enam bulan berkelana, Kakek Ngadimin menyatakan aku sudah lulus ujian (wong sebenarnya aku tidak tahu apa-apa).




















