No info
Suatu rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Pikiranku mendadak kosong, ketika punggungku menyentuh
dadanya. Gadis itu sedang
tidur dengan nyenyaknya. Tempat tidurku terdengar berderak. “Ya, Kak…, Guru-guru rapat”
Kak Tina keluar dari kamar. Aku menuju dapur, lalu
makan bersama Kak Tina. Yang
kulihat di sana sungguh luar biasa, dan tak akan pernah kulupakan. Kami
terus membaca. Celana
seragamku aku rendam di kamar mandi. Sulit
sadarnya. Jantungku berdebar kencang. Ceritanya benar-benar vulgar. Memandanginya. Aku saat itu berusia hampir 16 tahun. Setiap siang sepulang sekolah, sambil
mengembalakan tiga ekor sapi milik Pak Rochim, aku membaca Kho Ping
Hoo. Aku menutup bagian depan celanaku yang basah dengan tas sekolahku.





















