Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Aku duduk di samping Naralita yang terkulai. Bokep Terus.. hss.. Naralita kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Naralita dengan mulutku. “Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”
Naralita mendekat ke arahku. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.Hari-hari berikutnya, Naralita masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. “Masih gede juga?” tanyanya menggoda. Namun aku selalu menghindar. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku. Akibatnya, memukul ke arah wajah Naralita. aku pengin seperti Mbak Tari.”
“Pengin? Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah. terus ukhh..” Sebentar kemudian Naralita lemas.




















