“Sudahhhh ikuttt!!” ujar mbak Siti menarik tanganku.Aku dimintanya menunggu di depan pintu kamar sementara ia masuk dan berbicara dengan suaminya. Kutahu ia juga pasti sedang keenakan sebagaimana halnya diriku. Jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. CRRROOOOOTTTTT!!……CRRROOOTTTTT!!Uuugghh! Kamipun mengulangi apa yg sudah kami lakukan tadi. Dasar aku-nya yg bego dan kurang hati-hati.“Hi hi Iya deh mbak, Monica ngaku.. Jantungku berdetak keras. kali inipun dia melesat. “Ndak apa-apa non. Kalau ada apa-apa kang Narko tanggung sendiri resikonya.”Pembicaraan mereka berhenti sampai di situ. Aku tak boleh melampaui batas. Tapi mbak Siti dengan sigap menuntunnya balik masuk ke dalam memekku. Mang Narko menetek padaku! “Hi hi iya mbak. Kulihat mang Narko menatapku sambil nyengir memperlihatkan deret gusi tanpa giginya.




















