Dan Prima tampak serius. Kuambil baby lotion, lalu kembali menghampiri Prima sambil berkata,“Buka celana pendek dan celana dalammu sayang…” Prima menatapku dengan sorot sangsi. Biasanya suka ngajak ngobrol, ngomongin yang lucu-lucu serta sebagainya.Tapi kini kalian sangat berubah. Akhir-akhir ini keliatannya kayak yang murung gitu ? Yang besar telah diterima di sebuah perguruan tinggi populer tapi belum mulai kuliah, sementara yang kecil baru naik kelas 3 SMA. “Boleh…tapi harus ini yang nyentuhnya,” sahutku sambil menarik penis Prima yang masih lemas. Dan ia tersenyum, lalu memelukku juga dengan hangatnya. “Deuh…anak manja lagi netek nih ya ?” kataku perlahan sambil mengelus rambut anak tiriku. Di sebuah café, aku mulai berusaha membalasnya, “Kamu kenapa Pri?




















